Dari Kitab Kuning ke Ekonomi Modern, Prof Jaenal Ajak Santri Kuasai Ekonomi Kreatif

KEMUDIAN.id, Kediri – Kitab kuning selama ini dikenal sebagai sumber rujukan keilmuan pesantren. Namun, khazanah keilmuan klasik tersebut juga memiliki relevansi kuat dengan perkembangan ekonomi modern, termasuk perbankan dan bisnis syariah.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah RI, Prof. Dr. rer. nat. Jaenal Effendi, S.Ag., M.A., saat memberikan kuliah umum di Ma’had Aly Lirboyo, Kota Kediri, Selasa (27/10/2026).

Dalam kuliah umum bertajuk “Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Berbasis Turats” yang berlangsung di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Prof. Jaenal mengajak para mahasantri melihat kitab kuning bukan hanya sebagai warisan keilmuan masa lalu, tetapi juga sebagai fondasi untuk memahami dan mengembangkan ekonomi masa kini.

Menurutnya, sejumlah konsep dalam kitab turats memiliki hubungan erat dengan instrumen keuangan modern, seperti mudharabah, musyarakah, dan ijarah.

“Turats, kitab kuning yang selama ini kita pelajari ini memberikan basic knowledge bagaimana berbisnis. Konsep asuransi, konsep perbankan syariah, dasarnya adalah yang kita pelajari,” ujar Prof. Jaenal seperti dilansir BeritaJatim.

Kitab Kuning dan Ekonomi Kreatif

Prof. Jaenal yang merupakan alumni Lirboyo angkatan 2001 itu menggunakan sejumlah istilah dalam ilmu nahwu dan sharaf untuk menggambarkan karakter yang perlu dimiliki santri dalam menghadapi perkembangan zaman.

Ia menganalogikan santri dengan isim mufrad, yakni harus memiliki keteguhan dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT. Namun, keteguhan spiritual itu tidak boleh membuat santri menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan bidang keahlian baru.

Melalui analogi jamak taksir, ia mengajak santri berani keluar dari zona nyaman dan mengembangkan kapasitas diri tanpa kehilangan identitas kepesantrenan.

Sementara konsep fi’il mudhari’ menjadi gambaran pentingnya orientasi masa depan. Santri tidak seharusnya cepat puas dengan pencapaian sesaat, tetapi perlu membangun visi jangka panjang yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan peradaban.

Dalam konteks pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah, Prof. Jaenal juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai sektor, mulai dari perbankan hingga layanan katering. Seluruh sektor tersebut perlu dikelola secara profesional dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip syariah.

Ia mendorong para santri agar tidak hanya menjadi pengamat perkembangan ekonomi, tetapi ikut mengambil peran sebagai pelaku dan penggerak.

Santri Harus Berani Mengambil Peran

Gagasan tentang keterlibatan santri dalam ekonomi kreatif juga disampaikan Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH Atho’illah S. Anwar, dalam sambutan pembukaan.

Ia menjelaskan bahwa Ma’had Aly Lirboyo memiliki konsentrasi keilmuan fikih dan ushul fikih, termasuk fikih kebangsaan. Melalui pendidikan tersebut, para mahasantri diharapkan memiliki wawasan luas dan mampu menerapkan ilmunya di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.

Kiai Atho’illah juga menyoroti pentingnya penguasaan sektor ekonomi oleh kalangan pesantren agar santri tidak hanya menjadi konsumen, tetapi turut berkontribusi dalam menciptakan kesejahteraan.

“Ekonomi kreatif haruslah kita kuasai agar dunia ekonomi tidak hanya menjadi pembahasan para konglomerat saja, tapi juga ada peran santri di dalamnya,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda pesantren mampu mewarnai perkembangan ekonomi bangsa dengan nilai-nilai Islam yang adil dan bijaksana.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jaenal juga mengadaptasi sejumlah prinsip kepemimpinan dan pengembangan diri dari buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey. Di antaranya adalah sikap proaktif, memulai pekerjaan dengan tujuan akhir yang jelas, mendahulukan prioritas, serta membangun sinergi yang saling menguntungkan.

Bagi Prof. Jaenal, penguasaan ilmu dan keterampilan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan spiritualitas.

Di akhir pemaparannya, ia mengingatkan para mahasantri agar terus mengasah mental kepemimpinan, menjaga hubungan spiritual dengan Allah SWT melalui tariqah Ilahiyah, serta memperhatikan kesehatan fisik.

Ia bahkan menyampaikan tantangan terbuka agar para mahasantri berani mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa.

“Masa depan bangsa itu ada di tangan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. Pertanyaannya sekarang, adik-adik, punya mental enggak? Untuk memegang kendali NKRI ini ada di tangan alumni Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo,” katanya, disambut tepuk tangan peserta.

Kuliah umum tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo dan pengelola Ma’had Aly, di antaranya KH Atho’illah S. Anwar, Agus Arif Ridwan Akbar, Agus H. Nururrohman Ya’lu, dan Agus H. Abdurrahman Kafabihi.[KMD/BERITAJATIM]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *