Makam Hibrida Berusia 2.400 Tahun dengan Tiga Dipan Batu Ditemukan di Turki

Sisa-sisa tembok penahan batu yang menandai batas timur dan utara makam Reşitharmanyeri di Balıkesir, Türkiye barat. Dinding tersebut merupakan bagian luar monumen yang menyerupai gejolak. (Gambar : arkeonews.net)

Sebuah makam berusia 2.400 tahun yang menggabungkan dua tradisi pemakaman berbeda telah ditemukan di dekat kota kuno Adramytteion di Balıkesir, Turki bagian barat.

Terletak di distrik Burhaniye, monumen ini memiliki ruang makam yang dipahat ke dalam batu dan berisi tiga dipan batu, yang dilengkapi dengan pintu masuk berundak serta arsitektur eksterior yang menyerupai Tumulus (gundukan makam). 

Sebuah studi ilmiah yang baru saja diterbitkan mengungkapkan bahwa struktur yang dikenal sebagai Reşitharmanyeri ini merupakan monumen hibrida yang memadukan dua tradisi arsitektur pemakaman yang berbeda.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hüseyin Murat Özgen dari Universitas Seni Rupa Mimar Sinan dan diterbitkan dalam jurnal Cedrus ini, menyajikan evaluasi ilmiah komprehensif pertama terhadap makam tersebut, yang diteliti sebagai bagian dari ekskavasi penyelamatan di lokasi Bendungan Reşitköy pada tahun 2024.

Ekskavasi yang dilaksanakan di bawah naungan Museum Kuva-yi Milliye Balıkesir dengan kontribusi ilmiah dari Tim Peneliti Adramytteion ini, berhasil mengungkap tata letak arsitektur yang sebenarnya dari struktur tersebut, yang sebelumnya hanya terlihat sebagian.

Ruang Makam dengan Tiga Dipan Batu

Di bagian inti makam Reşitharmanyeri terdapat ruang makam yang dipahat langsung ke dalam batuan alami. Dengan ukuran sekitar 3,5 kali 2,8 meter, ruangan ini berisi tiga dipan batu yang disusun di sepanjang dindingnya, menyisakan ruang terbuka di bagian tengah. Meskipun sebagian area ruang makam telah mengalami kerusakan, bagian yang tersisa masih cukup utuh untuk menunjukkan betapa cermat desain interiornya.

Ruang pemakaman makam Reşitharmanyeri di Balıkesir, Türkiye barat, menunjukkan tiga kuburan yang dipotong dari batu (klinai) dan sebuah lubang di tengah yang disebabkan oleh gangguan yang terjadi kemudian.

Dipan-dipan tersebut bukanlah perabotan terpisah yang diletakkan di dalam makam, melainkan dipahat dari batu yang sama dengan ruang makam itu sendiri. Terdapat bagian yang lebih tinggi untuk sandaran kepala serta detail dekoratif yang menyerupai kaki-kaki perabotan kayu. Dua dipan ditempatkan saling berhadapan di sepanjang dinding utara dan selatan, sementara dipan ketiga berada di sisi barat.

Fitur-fitur ini memberikan gambaran mengenai seperti apa tampilan ruang makam tersebut pada masa lampau. Dalam dunia kuno, dipan semacam ini dikenal sebagai Klinai—yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas bersandar atau bersantap—namun juga menjadi bagian dari arsitektur pemakaman. Dengan mereproduksi bentuk-bentuk yang familier ke dalam batu, para pembangun menciptakan ruang pemakaman yang menyerupai ruangan berperabot, bukan sekadar bilik sederhana untuk orang mati.

Penataan tersebut menunjukkan bahwa upaya yang cukup besar telah dicurahkan untuk menyiapkan makam ini. Tiga tempat tidur batu di dalamnya mungkin digunakan untuk menampung beberapa jenazah, meskipun kerusakan pada bilik tersebut membuat sulit untuk mengetahui siapa yang sebenarnya dimakamkan di sana.

Struktur yang Lebih Kompleks daripada Sekadar Makam Batu

Keistimewaan makam ini tidak hanya terletak pada tempat tidur batunya, tetapi juga pada sistem pintu masuk dan sisa-sisa dinding luar, yang mengindikasikan bahwa struktur ini dirancang dengan perencanaan yang jauh lebih matang daripada dugaan sebelumnya.

Pengunjung yang datang dari arah timur akan menuruni serangkaian anak tangga yang dipahat pada batu sebelum mencapai lorong sempit selebar kurang lebih 80 sentimeter, yang dikenal sebagai Dromos. Ambang batu yang lebih tinggi menandai peralihan antara pintu masuk dan lorong tersebut, yang kemudian mengarah ke dalam bilik pemakaman. 

Detail tempat tidur pemakaman batu (kline) di makam Reşitharmanyeri, memperlihatkan hiasan kaki berukir di samping gambar arsitektur dan pemandangan bagian.

Meskipun penutup aslinya telah hilang, jejak arsitektur yang tersisa menunjukkan bahwa lorong tersebut dulunya memiliki struktur bagian atas yang dibangun secara khusus. Namun, bentuk pastinya masih belum diketahui secara pasti.

Ekskavasi juga menemukan dinding penahan melengkung yang terbuat dari batu kasar di sepanjang sisi selatan dan timur monumen. Para peneliti meyakini bahwa dinding ini berfungsi menopang lapisan tanah di atasnya, sehingga makam tersebut tampak seperti gundukan pemakaman atau tumulus. Dinding ini mengikuti kontur alami medan berbatu, alih-alih membentuk sebuah lingkup yang utuh dan simetris.

Berbeda dengantumulus konvensional yang dibangun di bawah gundukan buatan yang besar, situs Reşitharmanyeri memanfaatkan formasi batuan alami sebagai bagian dari desainnya. Bilik pemakaman dipahat langsung ke dalam batuan dasar, sementara dinding penahan dan lapisan tanah di atasnya menciptakan tampilan luar menyerupai gundukan.

Kombinasi inilah yang mendasari mengapa Dr. Hüseyin Murat Özgen menyebut struktur tersebut sebagai monumen pemakaman hibrida. Para pembangunnya menggabungkan elemen dari dua tradisi pemakaman, yang kemudian disesuaikan dengan lanskap setempat, alih-alih sekadar meniru salah satu bentuk arsitektur secara kaku.

Sejarah dan Kaitan dengan Adramytteion

Makam ini terletak sekitar sembilan kilometer di sebelah tenggara kota kuno Adramytteion, di selatan Teluk Edremit. Posisinya di dataran tinggi berbatu yang menghadap ke lembah menjadi kunci penting untuk memahami hubungannya dengan permukiman pedesaan di sekitarnya. Permukiman Çingentarla terletak sekitar 656 meter dari makam tersebut. Sekitar dua kilometer ke arah utara terdapat Hisarkale, yang dianggap sebagai salah satu titik pertahanan yang mengendalikan jalan serta lembah di wilayah itu selama periode Klasik Akhir dan periode Helenistik.

Reşitharmanyeri terletak di tengah lanskap yang terdiri dari permukiman pedesaan, area pertanian, dan situs-situs berbenteng yang terhubung dengan kota kuno Adramytteion. Dari posisinya yang berbatu dan menghadap ke lembah, makam ini dapat terlihat oleh siapa pun yang melintasi wilayah sekitarnya. Pemilihan lokasi ini kemungkinan bertujuan untuk mengenang mereka yang telah meninggal sekaligus menandai keberadaan mereka dalam lanskap tersebut.

Temuan berupa pecahan tembikar berlapis glasir hitam yang ditemukan selama penggalian memberikan petunjuk mengenai usia makam ini. Bersama dengan ciri-ciri arsitekturnya, temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa monumen tersebut berasal dari periode Klasik Akhir atau periode Helenistik Awal. 

Özgen memperkirakan abad ke-4 SM sebagai waktu yang mungkin, meskipun bukti yang ada saat ini belum memungkinkan penentuan kronologi yang lebih tepat.

Pemandangan barat makam Reşitharmanyeri berusia 2.400 tahun di Balıkesir, Türkiye barat, setelah penggalian dan dokumentasi LiDAR.

Tradisi pemakaman serupa dapat ditemukan di wilayah lain di barat laut Anatolia. Makam-makam di sekitar Pergamon menunjukkan bagaimana gundukan makam diintegrasikan ke dalam lanskap, sementara contoh dari Lembah Kaikos dan Daskyleion menampilkan ruang makam dengan tempat tidur batu yang dipahat langsung pada batuan dasar. 

Reşitharmanyeri memadukan elemen-elemen arsitektur tersebut, menggabungkan tiga tempat tidur makam yang dipahat pada batu dengan bagian luar yang dirancang menyerupai sebuah tumulus.

Kondisi Makam yang Pernah Dijarah

Sebelum penggalian tahun 2024, Reşitharmanyeri telah dikenal dan terdaftar sebagai situs arkeologi. Namun, penggalian ilegal telah menyebabkan kerusakan parah, baik pada bagian interior maupun struktur penutup bagian atas makam.

Langit-langit ruang makam yang dipahat pada batu sebagian besar telah hancur, dan berbagai bagian dari ketiga tempat tidur batu tersebut mengalami kerusakan. Sebuah lubang bekas penjarahan dengan diameter sekitar 1,15 meter dan kedalaman 55 sentimeter juga ditemukan di tengah ruangan. Akibat tindakan tersebut, tatanan pemakaman yang asli sebagian besar telah hilang.

Hingga kini, tidak diketahui siapa yang dimakamkan di dalam makam tersebut atau benda berharga apa saja yang pernah ada di sana. Peneliti menilai bahwa kualitas arsitektur struktur ini mungkin menunjukkan status sosial yang tinggi; namun, karena tidak ditemukannya sisa-sisa kerangka manusia, prasasti, ataupun bekal kubur yang utuh, identitas individu-individu tersebut tidak dapat dipastikan.

Meski demikian, penggalian penyelamatan ini berhasil mendokumentasikan integritas arsitektur makam yang sebelumnya belum dipahami dengan benar. Pintu masuk berundak, lorong, ruang dengan tiga tempat tidur, serta dinding penahan bagian luar kini dipahami sebagai bagian-bagian yang saling melengkapi dari satu struktur yang sama.[KMD/arkeonews.net]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *