MUI Jajaki Kerja Sama BWI dan Lembaga Zakat Al-Azhar untuk Perluas Beasiswa Mahasiswa Indonesia

Pertemuan peserta program dengan jajaran diplomat Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Mesir, Rabu (28/10/2026). (Gambar: MUI)

KEMUDIAN.id, Kairo — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong penguatan diplomasi keagamaan Indonesia melalui kemitraan dengan sejumlah lembaga strategis di Mesir. Salah satu agenda yang dijajaki adalah kerja sama antara Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Bait az-Zakat wa as-Sadaqat Al-Azhar untuk memperluas dukungan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia di Mesir.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan peserta Program Pengembangan Wawasan Dai Internasional (PWDI) 2026 dengan jajaran diplomat Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Mesir, Rabu (28/10/2026).

Direktur Program PWDI Internasional, KH Khariri Makmun, mengatakan program yang diselenggarakan Komisi Dakwah MUI tersebut tidak hanya bertujuan memperluas wawasan para dai, tetapi juga membuka peluang kerja sama konkret di bidang pendidikan Islam dan pemberdayaan umat.

Pertemuan itu dihadiri Minister/Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Kairo Hendra Satya Pramana, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Abdul Mutaali, serta Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya Nur Salim.

Diplomasi Keagamaan Perlu Menghasilkan Kerja Sama Nyata

Menurut Khariri, diplomasi keagamaan merupakan instrumen penting untuk mempererat hubungan antarnegara, terutama di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah dan berbagai tantangan yang dihadapi dunia Islam kontemporer.

Hubungan historis Indonesia dan Mesir, yang selama ini terjalin kuat melalui pendidikan dan pertukaran keilmuan, perlu dikembangkan menjadi kemitraan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Program ini bukan sekadar kunjungan akademik atau silaturahim ulama,” tutur Khariri.

Ia berharap dialog dengan lembaga-lembaga strategis di Mesir dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama jangka panjang, khususnya dalam penguatan dakwah, pendidikan, dan pengembangan umat.

Melalui PWDI Internasional, MUI ingin mendorong agar hubungan Indonesia–Mesir tidak berhenti pada pertemuan antartokoh, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang terukur dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.

Penjajakan Beasiswa melalui Kerja Sama Wakaf dan Zakat

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam pertemuan di KBRI Kairo adalah penjajakan kerja sama antara BWI dan Bait az-Zakat wa as-Sadaqat Al-Azhar. Kolaborasi tersebut diusulkan untuk ditindaklanjuti melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), termasuk dalam penyediaan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir.

Gagasan ini dinilai relevan seiring besarnya jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir. Sejumlah pemberitaan pada 2026 menyebutkan jumlah mereka telah melampaui 20 ribu orang, dengan sebagian besar menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar.

Kerja sama antara lembaga wakaf dan zakat dari kedua negara berpotensi membuka sumber dukungan pembiayaan pendidikan yang lebih luas, terutama bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan.

Jika penjajakan tersebut berlanjut menjadi kesepakatan, sejumlah aspek perlu dirumuskan lebih lanjut, mulai dari mekanisme seleksi penerima beasiswa, tata kelola dana, hingga evaluasi program agar bantuan dapat disalurkan secara transparan dan tepat sasaran.

Selain sebagai pusat keilmuan Islam, Mesir juga memiliki posisi strategis dalam hubungan ekonomi Indonesia di kawasan Timur Tengah. Data Kementerian Perdagangan RI mencatat nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar 2,38 miliar dolar AS sepanjang 2025.

Dengan hubungan yang telah terbangun di bidang pendidikan, keagamaan, dan perdagangan, penguatan kemitraan Indonesia–Mesir diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Diplomasi keagamaan melalui PWDI menjadi salah satu upaya MUI untuk menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan nyata umat. [KMD/MUI]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *